www.unik77.tk
all about unik 77 : percaya atau tidak, kalau bisa sih unik setuju ?

Weird : Unique : Funny : Extreme : Mystery : Strange : Inspiring : all in one
| kotak pencarian |


Apa yang dilakukan para capres? Mega memilih duduk dan berbincang dengan timnya. Jusuf Kalla, pada beberapa jeda, terlihat berbincang dengan timnya dan juga mendatangi jajaran pimpinan KPU. Pada sesi jeda lainnya, SBY dan JK mendatangi dan berbincang-bincang dengan jajaran pimpinan MetroTV.

JAKARTA (Pos Kota) – Suhu politik Tanah Air terasa kian memanas. Persaingan sesama tim pemenangan antar kubu tak lagi sebatas “sindir menyindir”, melainkan sudah taraf “tuduh menuduh”. Bahkan “tuntut menuntut” antara satu kubu dengan lainnya.
Yang paling anyar, Tim SBY- Boediono menuntut Tim JK-WIranto meminta maaf, karena beredarnya selebaran yang berbaru SARAdi tengah acara kampanye TM JK Wiranto, di Asrama Haji, Medan.
Isi selebaran itu, yang yang diedarkan oleh pria berbaju batik di Asrama Haji, yang dihadiri oleh para ulama dan ibu-ibu pengajian itu, ditujukkan kepada istri Boediono, calon isteri wakil presiden, Herawaty Boediono, mengutip ucapan seorang ulama tuna netra garis keras. “Dari Habib Husain Al Habsy: Apa PKS tidak tahu istri Boediono Katolik?.”
Selebaran yang juga diedarkan kepada wartawan itu merupakan kutipan wawancara dengan tabloid Indonesia Monitor, edisi 49 Tahun I/3-9 Juni 2009 lalu.
DI BANDUNG
Peredaran wawanara Indonesia Monitor itu tak cuma di Medan, melainkan juga di Bandung. Sesaat sebelum Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi , usai menyampaikan ceramah dan konsolidasi menjelang muktamar, di luar masjid disebar selebaran yang dicopy dari tabloid yang isinya provokatif itu.
KH Hasyim Muzadi yang merupakan tokoh PBNU juga dikenal dekat dan bahkan pernah menjadi cawapres Megawaty .
Foto copy-an yang dibarkan itu juga bersumber tabloid Indonesia Monitor edisi yang sama . Dari pantauan wartawan di Bandung, lembaran itu dibawa beberapa orang, lalu hadirin yang ada langsung memintanya. Hampir seluruh hadirin mendapat lembaran tersebut.
Menurut penuturan Nufus, dikutip detik.com Bandung, yang membawa lembaran foto copy an antara lain anggota IPNU (Ikatan Pelajar NU), dan mendapatkan foto copy an dari pihak panitia.
Namun, Ketua Pelaksana Harian PWNU Jabar Moch Surjani Ichsan mengaku tidak tahu menahu tentang pembagian foto copyan tersebut. Bahkan dirinya mengaku baru mengetahui ketika akan dikonfirmasi. “Terus terang saya tidak tahu ini apa, saya tidak tahu,” kata Surjani.
ANDI MALARANGENG MERADANG
“Ini black campaign, kampanye jahat, atau fitnah. Saya tidak tahu ini dilakukan secara sengaja atau tidak, tapi kami menuntut pak JK menjelaskan peristiwa ini, “ ujar juru bicara SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng di Bravo Media Center, Jakarta, Rabu (24/6).
“Ibu Boediono sejak lahirnya hingga sekarang Herawati beragama Islam dan salehah,” tandasnya.
Andi yang mengetahui peredaran selebaran itu dari berita televisi mengatakan, kalau selebaran itu memang disebarkan oleh tim kampanye Jusuf Kalla, maka capres tersebut harus minta maf secara terbuka kepada Herawati Boediono. “Yang menjadi keprihatinan kami adalah selebaran itu dibagikan pada saat Pak JK sedang berkampanye,” kata Rizal.
“Namun kalau penyebaran itu tidak dilakukan oleh tim kampanye JK maka kami ingin mendapat penjelasan mengapa hal itu sampai bisa terjadi karena biar bagaimanapun juga Pak Kalla masih menjadi Wakil Presiden,” kata Rizal.
Kubu SBY-Boediono tampaknya benar-benar meradang atas beredarnya artikel bermuatan SARA itu. Terbukti, tim sukses SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng tidak melaporkan hal ini ke Badan Pengawas Pemilu terlebih dahulu, melainkan langsung meminta JK meminta maaf.
Tim Kampanye Nasional SBY- Boediono akan melaporkan masalah itu kepada Panwaslu Kota Medan. “Persaingan perlu, tapi jangan serendah itu” kata Andi Malarangeng.
BANTAH
Tim Kampanye Nasional Jusuf Kalla-Wiranto membantah tudingan timnya sebagai penyebar selebaran gelap itu meski beredar di acara kampanye yang menghadirkan tokoh partainya.
Jubir Tim Kampanye nasional JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi menegaskan pihaknya sama sekali tidak mengetahui adanya fotokopian selebaran yang dibagi-bagikan saat kampanye berlangsung di Medan itu.
“Kami baru tahu dari teman-teman wartawan dan kami memastikan tidak ada satupun tim dari kami yang mengedarkan ini,” kata dia di ASEAN International Hotel di Medan Sumatera Utara, Rabu (24/6).
Saat disinggung mengenai permintaan dari tim sukses SBY-Boediono agar JK meminta maaf, Yuddy menilai hal tersebut salah alamat. Pasalnya, selebaran tersebut merupakan berita yang diambil dari tabloid Indonesia Monitor yang kemudian difotokopi dan disebarkan.
“Kalau saya mengetahui sejak awal, saya cegah agar jangan disebarkan. Sebaiknya, tuntut saja Indonesia Monitor atau pak Boediono kan punya hak menjawab,” tukas Yuddi seraya memberi saran.
Jika merasa difitnah, maka Boediono menempuh jalur hukum dan melaporkan kepada Panwaslu, Yuddy menyarankan. Sedangkan mengenai isi berita dari Indonesia Monitor, dia menilai hal tersebut bukanlah selebaran gelap. “Kalau dilihat dari sumber dan narasumbernya, ini bukan selebaran gelap. Ada tabloidnya dan sumbernya yaitu Habib Hussein Al Habsyi,” kata dia.
JK BERTANGGUNG JAWAB
“Kami tidak tahu apakah Pak Kalla mengetahui penyebaran fotocopy itu atau tidak. Karena yang berkampanye itu adalah Pak Kalla yang masih merupakan Wakil Presiden, maka kami ingin mendapat kejelasan dan penjelasanmengenai selebaran gelap itu,” kata Andi Malarangeng lagi di Bravo Center, Jakarta.
Penjelasan itu dinanti-nanti Tim Kampanye SBY-Boediono karena, menurut dia, biar bagaimanapun juga Jusuf Kalla merupakan penanggung jawab tertinggi dalam tim kampanyenya.
Ditegaskan, kalau memang Capres Kalla tidak mengetahui bahwa selama dirinya berkampanye beredar selebaran yang sama sekali tidak mengandung kebenaran, kata dia, maka Kalla harus menegur tim kampanyenya. “Apa salahnya Pak Kalla menegur tim kampanyenya,” kata Rizal.
TANYA TETANGGANYA
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring, salahsatu partai pendiri SBY-Boediono, juga menegaskan bahwa istri Boediono itu memang benar-benar beragama Islam.
“Ibu Herawati Boediono pernah belajar mengaji pada seorang kader PKS di Jalan Rasamala, di kawasan Bidakara, Jakarta,” kata Tifatul. Bahkan ketika menikah, Boediono dan Herawati juga berlangsung secara Islam. Mertua Tifatul pun ikut menghadiri acara sakral itu.
“Kalau dulu Pak Boediono yang dipertanyakan agamanya, maka sekarang istrinya. Jangan-jangan nanti para tetangga Pak Boediono yang dipertanyakan agamanya,” kata Presiden PKS ketika menyindir para lawan politik Yudhoyono-Boediono, Minggu (21/6) malam. (dms)POSKOTA.CO.ID


Setelah pada tulisan sebelumnya telah diketahui bahwa “ Ipang” sebagai sosok penting yang meningkatkan citra JK-Wiranto, kali ini mengenal sang konseptor dan kreator iklan-iklan kampanye pasangan capres dan cawapres Mega-Prabowo.
Sofwan Rahman (38) memang belum banyak dikenal di kancah pertarungan komunikasi politik tanah air. Khabarnya dia baru sekali menangani iklan politik, yaitu iklan Partai Gerindra pada Pemilu Legislatif 2009 lalu.
Saat ini ketika Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto maju sebagai cawapres pendamping Megawati, Sofwan Rahman kembali dipercaya untuk menggarap iklannya.
Sebenarnya sejumlah seri iklan dari 47 versi yang telah disiapkan dan telah diproduksi. Tetapi tidak semuanya bisa dinikmati masyarakat secara luas karena beberapa stasiun televisi hingga saat ini masih menolak menayangkan empat seri terakhir. Yaitu, iklan kampanye yang berjudul “Bangkrut”, “Mencintai”, “Harga”, dan “Pekerjaan”.
Keempat iklan ini sebenarnya sudah lolos dari lembaga sensor, namun iklan-iklan tersebut dianggap terlalu keras mengkritik oleh beberapa stasiun televisi dan hanya dua stasiun televisi yaitu TVRI dan Indosiar, yang berani dan tetap menayangkannya.
“Kami memang tetap memakai gaya iklan yang sangat verbal seperti saat iklan Gerindra dulu, tidak memakai metafor,” ujar Sofwan kepada Jawa Pos kemarin (22/6).
Karena itu, pihaknya memilih strategi kampanye dengan menyampaikan fakta-fakta lain di balik capaian pemerintah lima tahun lalu. Menurut Sofwan, dirinya berusaha menyampaikan secara gamblang sejumlah hal yang masih ditutup-tutupi pemerintah selama ini. “Statistik dilawan dengan statistik. Masyarakat juga perlu tahu sebagai bagian pendidikan politik,” tegas alumnus desain komunikasi visual ISI Jogjakarta itu.
Salah satu iklan Mega-Prabowo yang diboikot, berjudul “Harga“, memang terang-terangan melawan klaim pemerintah bahwa kesejahteraan rakyat telah ditingkatkan. Iklan itu dimunculkan di situs video You Tube.
Video Iklan Kampanye Mega-Prabowo ” Harga”
Iklan tersebut mengungkapkan harga barang yang semakin mahal lima tahun terakhir. Setiap adegan ditampilkan dengan format hitam putih. Baru di bagian akhir, iklan ditutup ajakan melakukan perubahan dengan memilih pasangan Mega-Prabowo. Di bagian tersebut tampilan iklan menjadi berwarna dan tampak lebih cerah. “Selain upaya hukum (terhadap televisi yang menayangkan), kami mulai sedikit menggeser iklan ke depan menjadi lebih sophisticated,” katanya.
Selama menangani iklan Mega-Prabowo, kendala yang dihadapi Sofwan sebenarnya tidak hanya saat penayangan. Saat produksi, timnya juga mengalami hambatan. Terutama, perizinan untuk tempat pengambilan gambar. “Saya tidak tahu, dibanding saat legislatif lalu, sekarang jauh lebih susah. Tapi, ya sudahlah,” ungkapnya, lantas tertawa menyindir.
Tantangan yang juga harus dihadapi anak bungsu dari 15 bersaudara dari salah seorang pengasuh pesantren di Kuningan, Cirebon, itu adalah kedua pasangan sendiri. Baik Mega maupun Prabowo bukanlah sosok yang senang dikemas dalam format kampanye by design. “Agak susah, tidak seperti kandidat lain yang sangat senang ‘bergaya’ di depan kamera. Keduanya justru tidak terlalu akrab,” paparnya.
Solusinya, gambar-gambar keduanya lebih banyak diambil dengan model candid camera. Atau, diambil dari reportase saat mereka berada di lapangan. “Ya, itu sudah gaya mereka, tidak perlu dipaksa-paksa,” tandas Sofwan.
Seberapa optimistis iklan-iklan yang diluncurkan mampu memenangkan Mega-Prabowo? Dia hanya menyatakan masih yakin bahwa dari iklan tersebut rakyat menjadi sadar akan pilihan terbaik dalam pilpres. “Soal menang atau kalah, itu Gusti Allah yang menentukan. Tapi, saat rakyat sadar itu telah menjadi kepuasan terbesar,” ujarnya.
Sumber : |Jawa Pos |Youtube

Jakarta (BCZ) Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Permadi mengatakan penganut kejawen percaya musibah adalah kehendak Allah.
Tapi di tanggal lahir SBY 9 September 1949 pertanda tidak bagus karena bisa menciptakan goro-goro atau musibah. Hal itu dikatakannya saat tampil sebagai pembicara pada diskusi bertema “Politisasi Bencana Alam Antara Klenik-Ilmiah dan Religius” di gedung DPR, Rabu (24/6).
Selain Permadi pembicara lain adalah Pimpinan Pondok Pesantren Assiddiqiyah Pusat Jakarta- Barat, politisi PKB Marwan Djaffar, pakar lingkungan Widiatoko dan pengamat ekonomi Panangian Simanungkalit.
Menurut Permadi, kejawen adalah ilmu yang tinggi dan tidak bisa dikaitkan dengan ilmu pengetahuan. Atas dasar itu, Permadi mengatakan kalau tanggal lahir SBY bisa membawa goro-goro atau musibah. Dia menyebut, setelah dilantik menjadi presiden serangkaian kecelakaan terjadi.[dry/Mg3/rm]KEPRI-TODAY.COM

SUMBER : Harian KOMPAS
-
Dalam kampanye capres, “rakyat miskin” merupakan “barang dagangan” primadona untuk dijadikan bahan kampanye. Rakyat kecil hanyalah bahan pemanis kampanye untuk meraih kekuasaan.
-
Pertanyaannya : “Apakah yang sudah mereka lakukan dalam mengurangi kemiskinan ??!!
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

Tapi setelah dikenakan sanksi ekonomi dan terutama setelah invasi AS ke negeri itu yang memicu pertikaian sektarian membuat ribuan ilmuwan Irak mengungsi. Setelah aksi-aksi kekerasan di klaim menurun dalam dua tahun belakangan ini, hanya 700 orang profesor dari seluruh universitas di Irak yang mau kembali mengajar.
Untuk untuk pemerintah Irak meminta para ilmuwan Irak yang masih mengungsi di luar negeri untuk pulang dan memberikan kontribusi keahliannya untuk membangun kembali Irak yang porak poranda akibat penjajahan AS.
"Irak sangat membutuhkan para ilmuwannya sekarang ini. Mereka adalah otak bagi negara Irak, kami akan senang sekali melihat mereka mau kembali dan saya harap mereka pulang untuk selamanya," kata Sadeq al-Rikabi, penasehat bidang politik perdana menteri Irak dalam acara konferensi yang diselenggarakan Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Irak.
Menurut data pemerintah Irak, sedikitnya 350.000 warga Irak lulusan universitas tinggal di luar negeri. Jumlah itu meliputi 17 persen dari 2 juta warga negara Irak yang mengungsi ke negara lain dalam beberapa tahun belakangan ini.
Sekitar 200 ilmuwan Irak yang menghadiri konferensi iptek di Baghdad mengatakan, banyak ilmuwan Irak yang masih enggan kembali ke Irak karena hampir setiap hari masih terjadi pembunuhan terhadap warga sipil dan serangan-serangan bom.
Salah satu ilmuwan Irak, Profesor Mohammed Al-Rubaie, pakar di bidang teknik genetika yang sekarang mengajar di Universitas Dublin, salah satu ilmuwan Irak yang masih ragu untuk kembali ke tanah airnya. Ia hanya sesekali saja berkunjung ke Irak.
"Kami tidak mau kembali ke Irak, tapi ada banyak cara untuk membantu Irak. Para ilmuwan bisa diundang ke Irak untuk memberikan masukkan dan menyumbangkan pengalamannya untuk mengerjakan proyek-proyek khusus di Irak," kata Al-Rubaie. (ln/dailynews)


Selalu harus ada korban untuk sebuah perdamaian, selalu ada harga yg harus dibayar untuk mendapatkan kemerdekaan.

Ini adalah seri pesawat jet pribadi buatan Brasil yang memiliki
kapasitas hanya untuk 13 penumpang plus satu awak kabin. Kabin Legacy
600 dibagi dalam dua bagian, pertama dua lajur empat baris untuk 8
penumpang.
Spesifikasi
Karakteristik umum
* Kru: Tiga – pilot, co-pilot dan flight attendant
* Kapasitas: 8 penumpang + 1 Cockpit Jumpseat Rider
* Panjang: 26.33 m (86 ft 5 in)
* Lebar sayap: 21.17 m (68 ft 11 in)
* Tinggi: 6.76 m (22 ft 2 in)
* Berat kosong: 16,000 kg (30,000 lb)
* Berat maksimum lepas landas: 22,500 kg (49,604 lb)
* Mesin: 2× Rolls-Royce AE 3007/A1P turbofans, 33.0 kN (8,810 lbs) masing-masing
Performa
* Kecepatan maksimum: 834 km/h (450 kt, 518 mph)
* Jarak jangkau: 6,060 km (3,250 nm, 3,740 mi)
* Ketinggian maksimum: 12,496 m (41,000 ft)
* Dorongan/berat: 0.42:1
Kapasitas bahan bakar: 18,800 lb (Legacy Executive) / 11,321 lb (Legacy Shuttle)
Sumber : http://k2h-boy.blogspot.com/2009/06/...i-prabowo.html
Maap klo :repost:



Acara diikuti oleh puluhan kader dan simpatisan Partai Demokrat serta
anggota dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengklaim
sebagai pendukung pasangan capres-cawapres dengan nomor urut dua
tersebut.
Heri Tanadi, salah satu anggota tim pemenangan
SBY-Boediono, mengatakan bahwa acara larung sesaji ini merupakan ritual untuk mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa. Harapannya agar pasangan SBY-Boediono menang dalam pemilihan umum presiden 2009 nanti.
Adapun sesaji yang dilarung berupa bunga tujuh macam, dupa atau kemenyan, dan dua ekor bebek yang diberi poster gambar SBY dan Boediono. Kedua ekor bebek dimaksudkan untuk melambangkan nomor urut pasangan capres tersebut.
Sebelum dilakukan larung sesaji, mereka terlebih dahulu menggelar acara
selamatan berupa doa bersama di bantaran Sungai Brantas di Kelurahan
Semampir, Kota Kediri.
Selain mengharap berkah kemenangan, ritual larung sesaji juga dimaksudkan sebagai upacara membuang sial atau ketidakberuntungan.
Alasannya, pada pemilu legislatif 2009 lalu, Partai Demokrat Kota
Kediri kalah suara dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Partai Demokrat di Kota Kediri hanya mendapatkan tiga kursi dari 30
jatah kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang diperebutkan.
Perolehan kursi ini jauh di bawah perolehan kursi PDI-P yang mencapai 5
kursi.
Dari tiga kecamatan yang ada di Kota Kediri, yakni Kecamatan Kota
Kediri, Kecamatan Mojoroto, dan Kecamatan Pesantren, caleg Partai
Demokrat hanya mampu meraup perolehan suara rakyat, masing-masing untuk
mendapatkan satu kursi.

Kalau publik menilai debat capres kemarin datar dan terkesan normatif, Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) justru berkomentar lebih pedas lagi. Menurut Gus Dur, ketiganya tak layak duduk di kursi capres.
“Dari dulu mereka itu enggak layak memimpin negara. Yang layak itu harus punya konsep yang jelas tentang pembangunan Indonesia,” ujarnya di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya, Jakarta, Jumat (19/6/2009).
Saat ditanya siapakah yang saat ini mampu memimpin Gus Dur pun “membusungkan dada”.
“Saya (yang mampu memimpin negara). Saya diam-diam juga calon presiden. Saya dulu daftar,
tapi Prabowo yang menularkan di mana-mana kalau saya bukan capres,” jelasnya.
Menurut dia, hanya dirinyalah yang punya konsep tentang pembangunan di Indonesia. “Itu Cuma saya. Saya perhatikan betul. Saya sudah bawa ke sidang DPP PKB dan diterima oleh dewan syuro,” tegas Gus Dur.
Saat ditanya, siapakah salah satu dari ketiga calon yang paling memiliki kriteria tersebut, Gus Dur mengaku tidak ada. “Kalau tanya saya, ya tidak usah memilih, karena mereka tidak layak,” katanya.
Gus Dur juga sempat menyinggung buruknya kebijakan ekonomi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “SBY itu tunduk pada IMF. Karena itu, tadinya minta Sri Mulyani tapi karena dia tidak sanggup, jadi pilihan jatuh ke stafnya Boediono.Tugas Boediono itu mengusahakan agar Indonesia jatuh ke tangan asing,” jelas Gus Dur. (ded)
Sumber : Taufik Hidayat - Okezone

Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad ditengarai terlibat dalam pembunuhan tokoh besar Kurdi di Austria. (SuaraMedia News)
VIENNA (SuaraMedia News) – Polisi Austria akan menjatuhkan tuntutan yang berpotensi menyeret presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke ranah hukum. Hal tersebut seiring peranan Ahmadinejad dalam sebuah peristiwa pembunuhan seorang pemimpin gerakan oposisi Kurdi di kota Vienna pda tahun 1989 silam, demikian dikatakan oleh menteri luar negeri pada hari Rabu.
“Klaim yang dibuat oleh Deputi Partai Hijau Austria (Die Grünen), Peter Pilz pada hari Kamis lalu langsung dilimpahkan kepada penyelidik dari kepolisian,” kata Michael Spindelegger pada hari Jumat malam.
“Penting untuk memeriksa kebenaran mengenai peranan Ahmadinejad dalam peristiwa pembunuhan tersebut sebelum kami bisa menjalankan sebuah jkebijakan luar negeri,” tambahnya.
Pada hari Kamis lalu, Pilz mengungkapkan sebuah kesaksian oleh seorang penjual senjata asal Jerman kepada media setempat. Penjual senjata tersebut mengklaim bahwa dirinbya telah mengirimkan senjata kepada Ahmadinejad pada bulan Juli 1989, tepat sesaat sebelum peristiwa pembunuhan Abdul Rahman Ghassemlou.
Ghassemlou, pemimpin partai demokratis Kurdistan – sebuah gerakan oposisi Iran yang tidak disukai oleh pemerintah berkuasa – dibunuh pada tanggal 13 Juli 1989 oleh pasukan komando yang tidak terlacak jejaknya.
Pria Jerman tersebut mengatakan bahwa dirinya terlibat pembicaraan dengan petugas intelijen Iran pada tahun 1989 mengenai transaksi senjata.
Abdul Rahman Ghassemlou
Dalam pernyataan yang dibuatnya di hadapan para petugas anti-korupsi Italia pada tangal 6 April 2006 ketika dia tersangkut kasus kriminal dalam perkara penyelundupan senjata di Trieste, Italia, pria Jerman tersebut mengatakan bahwa dirinya telah mengirimkan setengah lusin persenjataan ringan dalam sebuah pertemuan di kedutaan besar Iran di kota Vienna.
Dalam pertemuan tersebut, hadir tiga orang perwakilan Iran, “termasuk seseorang yang belakangan diketahui sebagai presiden republik Iran,” katanya, dalam sebuah terjemahan kesaksian seperti dikutip oleh Pilz.
Para jaksa Austria mengatakan bahwa pihaknya memiliki bukti pernyataam dari pria Jerman tersebut, namun juru bicara Michaela Schnell mengatakan kepada AFP bahwa bukti tersebut tidaklah cukup untuk melayangkan tuntutan hukum.
Pihak berwenang Austria, yang tetap menjalin kejasama ekonomi yang erat dengan Iran, tidak bersedia berkomentar mengenai keberadaan Ahmadinejad di Vienna ketika peristiwa pembunuhan tersebut terjadi.
Pihak Iran hingga sekarang terus menyangkal bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Pada tahun 1989, ketika Ghassemlou berada di Eropa untuk menghadiri sebuah kongres kaum sosialis internasional, Tehran mengontak KDPI (partai Demokratis Kurdi Iran – Hîzbî Dêmokiratî Kurdistanî Êran) dan meminta untuk melakukan negosiasi.
KDPI menerima tawaran tersebut. Pembicaraan pertama dihelat pada tanggal 12 Juli 1989 di Vienna. Delegasi Iran diwakili oleh tiga orang, Mohammed Jafar Sahraroudi, Hadjin Moustafawi, dan Amir Mansur Bozorgian.
KDPI diwakili dua orang delegasi, Abndul Rahman Ghassemlou dan ajudannya Abdullah Ghaderi-Azar (perwakilan KDPI Eropa). Seorang dosen Kurdi di Vienna, Fadhil Rassoul, yang menjadi penengah dalam negosiasi tersebut, turut hadir.
Pada tanggal 13 Juli, hari kedua negosiasi, di tempat belangsungnya negosiasi pertama, Ghassemlou ditemukan terbujur kaku dengan tiga lubang bekas tembakan peluru yang ditembakkan dari jarak dekat. Abdullah Ghaderi-Azar diberondong sebelas tembakan peluru, dan Fadhil Rassoul “kebagian” lima peluru.
Keesokan harinya pukul 7.30, polisi Austria yang mengetahui pembunuhan tersebut, mengidentifikasi tiga orang tersangka dan senjata pembunuhnya. Dua tersangka berhasil ditangkap.
Kedua orang yang tertangkap adalah Mohammad Jafar Sahraroudi, belakangan diketahui sebagai brigadir jenderal garda revolusin Iran dan komandan garda garnisun Ramezan di Iran, dan Amir Mansour Bozorgian, seorang agen rahasia Iran yang menyamar.
Sedangkan Moustafawi berhasil melarikan diri. Sahraroudi diintrogasi oleh polisi Austria dan dibebaskan kemudian. Bozorgian, setelah dibebaskan 24 jam kemudian, mencari perlindungan di kedutaan Iran.
Brigadir Jenderal Sahraroudi adalah orang yang merekrut Mahmoud Ahmadinejad sebagai pemimpin tim dalam pembunuhan tersebut. Sahraroudi sendiri yang mengomandani tim pembunuh yang berada langsung di lokasi, sementara Ahmadinejad memimpin tim pendukung yang menangani masalah logistik dan rute untuk melarikan diri. Ahmadinejad menerima persenjataan dan amunisi untuk menjalankan operasi dari kedutaan besar Iran di Vienna, senjata-senjata tersebut diselundupkan ke Vienna dengan selubung diplomatis.
Ahmadinejad ditempatkan di garnisun Ramezan dekat Kermanshar di Iran, dari tahun 1986, sebagai tentara garda revolusi dan kemudian bergabung dalam brigade khusus garda tersebut, sebuah pasukan elit yang ditugasi khusus untuk melakukan serangan di luar perbatasan negara Iran.(dn/aby/vs/ln) Dikutip oleh www.suaramedia.com

Seperti diketahui bahwa slogan kampanye pilpres pasangan JK-Wiranto adalah “Lebih Cepat Lebih Baik” dan sering mendapat serangan balik dari pesaingnya dalam pilpres.
Kali ini Jusuf Kalla (JK) kembali menangkis serangan terhadap slogan “Lebih Cepat Lebih Baik” dengan mengatakan bahwa jika tidak lebih cepat berati tidak sanggup
Bangsa Indonesia harus lebih cepat lebih baik karena sudah tertinggal jauh dari negara yang dulu masih berada dibawah Indonesia, ujar calon presiden Jususf Kalla dalam kampanye dialogisnya di Palembang, kemarin.
“Kalau tidak sanggup, biar kami yang lanjutkan,” tegasnya dihadapan pendukungnya yang terdiri dari beragam etnik. Menurutnya Indonesia tidak bisa lagi santai dan terjebak dalam buaian kondisi saat ini, apalagi jika dibandingkan dengan Malaysia, yang dulu banyak mengirim warganya untuk belajar ke Indonesia. ” Ternyata kemajuan Malaysia jauh mendahului, jadi tidak perlu lagi lebih lambat lebih jelek. Harus lebih cepat lebih baik. Sekarang sudah tidak jamannya lagi biar lambat asal selamat, itu sudah lima puluh tahun lalu,” kata Jusuf Kalla.
Jusuf Kalla juga menegaskan bahwa tidak selamanya cepat itu berbahaya. Seperti di Indonesia keretanya lambat dan berbahaya, tapi di Jepang keretanya cepat dan selamat. Bila ada pihak yang tidak mau lebih cepat lebih baik, berarti itu tidak sanggup.
Karena itu, kita harus berusaha untuk lebih cepat lebih baik. ” Kalaupun sudah berusaha masih tidak bisa, biarkanlah kami yang lanjutkan.”
Weleh…Weleh…Tapi Harus Hati-Hati Pak !

Banyak yang mengatakan dan bilang kalau Ibu Megawati Soekarnoputri dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono tidak akur dan selalu berseberangan dalam segala hal.
Namun tadi malam saat acara “Debat Capres” yang ditayangkan oleh Trans TV , isu dan rumor itu menurutku sudah terbantahkan. Malah dalam tayangan televisi tersebut terlihat mereka sangat kompak dan saling mengisi.
Kekompakan Megawati dan SBY terlihat dari tagline yang digunakan saat menyampaikan misi dan visinya yang bertema ” Strategi ewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Bersih dan Penegakan Supremasi Hukum” .
Jargon yang biasanya milik SBY, ternyata dikemukakan juga oleh Megawati, lihat nih apa yang diucapkan oleh Megawati…”Untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, mental bangsa harus dibangun, ini harus ‘dilanjutkan‘ .”
Hal lain yang juga membuktikan Megawati dan SBY ternyata cukup kompak
ternyata mereka memiliki visi dan misi yang sama dalam penegakan HAM dan TKI. Menurut Megawati permasalahan TKI harus diselesaikan dengan cara dari dalam berupa perlindungan Negara dan menjalin hubungan bilateral dengan Negara tujuan TKI. Rupanya jawaban SBY juga sama , “harus ada perlindungan dari dalam negeri dan luar negeri dengan meningkatkan kerjasama bilateral.” Saat moderator meminta tanggapan Megawati tentang jawaban SBY, Megawati menjawab singkat dengan mengatakan ” Mengikuti saya,” katanya dengan tersenyum lalu diikuti oleh tepuk tangan para hadirin.
Begitu pula sebaliknya, ketika SBY ditanya soal pelanggaran HAM dimasa lalu dan kaitannya dengan jargon “Lanjutkan” , ternyata jawaban Megawati sama dengan SBY. “Semua setuju dengan saya,” kata SBY yang disambut dengan gelak tawa para hadirin.
Kekompakan Megawati dan SBY tidak hanya terlihat dari penyampaian visi dan misi saja, coba lihat pakaian mereka, tampaknya seperti sudah janjian memakai baju warna merah :) …. Pak Hatta saja yang kurang kompak nih…pakai baju biru ?
Weleh…Weleh…Semoga Kekompakan Ini Terus Berlanjut
Rakyat Lebih Bahagia Lho ?

news